Analisis Pendidikan Pada Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) Karya Dedy Mizwar

Siluetsenja.com, 05/04/2022   09:56 am

 Analisis Pendidikan Pada Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) Karya Dedy Mizwar

Pendidikan - Di zaman seperti sekarang ini, realita kehidupan begitu miris.

Negara indonesia yang katanya kaya dan berjumlah penduduk banyak ternyata masih di perdaya oleh negara lain, pendidikan pun masih sangat terbelakang.

Anak usia tujuh sampai lima belas tahun seharusnya mendapatkan pendidikan dasar secara gratis, karena pasal 11 ayat 2 UU Sisdiknas menyatakan...

“Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun”.

Tapi kenyataanya masih banyak anak yang mereka tidak merasakan dunia pendidikan, masih banyak dari mereka justru berkeliaran di jalan.

seperti yang tergambar dalam film “Alangkah Lucunya (Negeri ini)” yang mengupas banyak hal penting terutama dari aspek pendidikan.

Karena belum terwujudnya pendidikan yang sesuai dengan UUD maka perlu kiranya kita mengkritisi masalah ini.

pernahkah kamu dengar?

"Dengan sastra seseorang (sastrawan) dapat mengevaluasi dan meramal zaman 

Analisis Pendidikan Pada Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) Karya Dedy Mizwar

A. Teori

Manusia di tadirkan Allah Sebagai khalifah di muka bumi. Menurut Al-Qur’an tangan-tangan manusialah yang bertanggung jawab terhadap negara dan seluruh isinya.

Ilmu pengetahuan dikembangkan dalam rangka melaksanakan amanah Tuhan yaitu sebagai khalifah di muka bumi, sehingga dengan bertambahnya ilmu yang kita miliki bertambah pula petunjuk dari Tuhan

Pendidikan selama ini dianggap sebagai pabrik yang mampu melahirkan aktor pembangun yang cerdas dan berepribadian.*

Pengertian Pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti ( karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”. *

Pendidikan adalah suatu proses, bukan seni atau teknik.

Seperti halnya yang di sampaikan Mortiner J. Adler, bahwasanya pendidikan adalah proses dimana semua kemampuan di pengaruhi oleh kebiasaan yang baik melalui sarana artistik.*

B. Pendidikan bukan tolak ukur Kesuksesan

Inilah cerminan bangsa kita dalam cuplikan Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) Karya Dedy Mizwar,

Muluk yang menyandang gelar Sarjana Ekonomi mengalami kesulitan mencari kerja.Begitu juga yang dialami Syamsul yang menyandang title Sarjana Pendidikan.

Sementara dua kakak Rohmah yang hanya lulusan Tsanawiyah dan Madrasah sukses dengan kios dan konveksinya.

Satu realita yang kita hadapi sehari-hari. Betapa banyak sarjana yang menganggur. Sebagian yang lebih beruntung beralih profesi. Berdagang atau bahkan menjadi pemulung.

Apakah kita harus menyalahkan lapangan kerja yang kurang?

atau sistem pendidikan kita yang dibuat untuk mencetak buruh?

Yang jelas pengangguran dan kemiskinan merupakan persoalan yang kompleks, yang membutuhkan penanganan serius. 

Fator penyebab tingginya angka pengangguran Indonesia antara lain:

  1. Kualitas sumber daya manusia yang kurang
  2. Terbatasnya lapangan pekerjaan
  3. serta faktor paradigma yang mengasosiasikan antara bekerja dengan menjadi karyawan institusi*

C. Dilema Mulia dan Haram

Saat kebaikan di sertai dengan keharaman terkadang kita tidak bisa memilih untuk pilihan yang sulit ini.

..seperti halnya berbohong untuk kebaikan dan berjasa mulia diimbali dengan uang haram yang dialamai Muluk (Reza Rahadian), Pipit (Tika Bravani), dan Syamsul (Asrul Dahlan) dalam cuplikan Film ini

adalah satu tindakan untuk mengembangkan Komet dan kawan-kawan yang patut diacungi jempol!

Walau bertahap, namun arah mereka jelas...

yaitu untuk membantu teman-teman kecil mereka meninggalkan profesi haram mereka dengan beralih profesi menjadi pedagang asongan. 

Segala sesuatunya tidak bisa instan!!

Nyatanya mereka tetap butuh uang. Dan jadilah mereka digaji dari hasil mencopet murid-murid mereka.

Kenyataan itu begitu pahit ditelan oleh orang tua Pipit dan Muluk.

Mengapa demikian?

karena uang haram telah mengalir di darah mereka, kedua sahabat seperguruan pesantren itu menangis sejadi-jadinya.

Meratapi jerih payah mereka selama ini untuk selalu jujur..

selalu memberi makan dan membesarkan anak mereka dengan uang yang halal...

Kenyataannya, anak mereka mendapatkan uang haram.

Di satu sisi, perbuatan mereka adalah mulia untuk membantu orang lain.

Namun nilai agama mengutuki mereka...

Menyudutkan apa yang mereka lakukan ke tempat yang haram,

D. Pendidikan yang tidak membebaskan

Itulah kurikulum kita.

Pendidikan yang tidak membebaskan.

Dimana kita selalu diajar dengan buku dan mendengarkan kata Pak/Bu Guru.

Dimana kita selalu dihadapkan dengan papan tulis, pinsil, buku, meja kayu, dan seragam yang kaku.

Ini kelas bebas jadi cara nulisnya juga bebas, yang penting jadi huruf A”. Begitu kata Asrul.

Satu kritik  terhadap pendidikan kita yang seringkali dipenuhi kata "harus".

Memang lucu melihat cara mereka dalam menulis huruf A.

Namun kebebesan menentukan kemauan anak-anak untuk belajar.

Apa yamg diperlukan untuk membangun pendidikan yang mampu melahirkan SDM yang berkualitas secara material dan spiritual?

yap, benar!!!

jawabanya adalah sistem pendidikan yang berorientasi pada pengembangan potensi dan dimensi peserta didik secara proporsional*.

Pendidikan sejatinya harus lebih cenderung mengarahkan anak didik dari pada menuangkan informasi,

kenapa?

karena mengajarkan ketrampilan proses lebih penting dari sekedar memberikan informasi. 

Film ini menurut penulis juga menggambaran pendidikan kolaborasi dalam proses pembelajaran.

Ketika Islam memandang perolehan pengetahuan sebagai sesuatu yang suci maka seseorang harus memperbaiki dirinya sebelum menerima pengetahuan.

Kerendahan hati dan kemuliaan niat di hadapan Tuhan adalah awal pembelajaran*

E. Pendidikan harusnya bermoral

Pendidikan membuat orang menjadi pintar.

Bukan hanya lebih pintar dalam mengelola negara,

tetapi juga lebih pintar mengeruk uang negara.

Nyatanya pendidikan tidak membuat orang taat hukum,

tidak pula membuat orang mampu membedakan mana uang mereka dan yang bukan.

Tanpa pendidikan orang hanya bisa jadi copet.

Dengan pendidikan, orang bisa jadi koruptor.

Begitu pula dengan sekelumit sindiran yang saya tangkap dari Film ini:

“Itu gedung DPR tempat wakil yang memperjuangkan nasib kita”
“Klao wakil copet ada nggak bang?”
“Di dalam itu tempatnya orang berpendidikan”
“Berati kita bisa di situ dong bang,, kita kan udah berpendidikan.”
“Ngapani lu di situ, lu bisa nyopet juga nggak”
“Tapi korupsi boleh kan?”

Pedagang Asongan diburu SatPol PP. Sementara koruptor dibiarkan bebas begitu saja.

Karena koruptor tidak mengganggu jalan.

Karena itu, dari pada mengganggu jalan dengan berdagang asongan,

lebih  baik mengkorup dana pembangunan jalan tersebut sehingga pembangunannya tidak maksimal.

Hal ini terjadi pun karena pendidikan lebih menekankan kepada pendidikan dari segi umum belaka serta minimnya pendidikian dari segi spiritual dan moral.

Coba kita renungkan...

jika mereka yang berpndidikan juga memiliki pengetahuan moral yang baik dan jiwa spiritual yang kuat...

...tentu saja mereka yang berpendidikan tidak akan melakukan tindakan tak berpendidikan seperti halnya demikian.

F. Indonesia (Belum) Raya

Lagu Indonesia Raya dikumandangkan...

Sayangnya Indonesia Raya masih menjadi doa.

Indonesia Raya belum menjadi nyata.

Aamiin.....!!!

...menjadi kalimat yang paling tepat untuk diucapkan selesai menyanyikan Indonesia Raya, seperti yang tergambar dalam cuplikan Film Alangkah Lucunya (Negeri ini)

Mengapa dikataan belum?

Padahal setiap tanggal 18 Agustus seluruh rakyat Indonesia selalu merayakan hari kemerdekaan Indonesia,

seluruh peserta didik, pegawai Negeri, pejabat, dan masyarakat dari berbagai profesi pun melangsungkan upacara kemerdekaan,

lantas apa artinya semua ini jika pada hakikatnya negara kita memang belum merdeka?

apa arti hari kemerdeaan hanya untuk mengenang perjuangan para pahlawan?

.atau hanya sekedar buadaya secara simbolis dengan memasang bendera merah putih di setiap rumah, di jalan-jalan, dan setiap tempat?

Sungguh memperihatinkan negera kita merdeka tapi belum,...

yah begitulah kenyataanya.

coba kita amati kenyataan yang terjadi di negara kita,

bangsa kita kaya, tapi kekayaanya di nikmati bangsa lain...

negara kita luas, tapi lahanya banyak di penuhi gedung-gedung pencakar langit milik bangsa asing...

dan yang sangat memukul adalah kenyataan bahwa tuan rumah harus tersingkir dengan tinggal di tempat-tempat kumuh sepanjang pinggiran sungai...

menjadi buruh pabrik-pabrik milik bangsa pendatang di negara sendiri...

Bukankah hal ini sangat lucu????

yang seharunsya tuan rumah adalah menguasai rumahnya sendiri, bukan di kuasai bangsa lain,

inilah realita yang terjadi di negara Kita Indonesia.

Tidak ada hal yang dapat kita lakukan selain meningkatkat potensi SDM kita dengan pendidikan,

dengannya kita dapat menguasai negara kita kembali yang katanya Merdeka,

tidak sekedar cerita.

G. Diskriminasi “Mereka”

Muluk tampak tersenyum senang.

Setelah berjuang mengajarkan mereka.

Memberikan pemahaman moral, pancasila, dan agama.

Membuat mereka mengerti mana yang haram dan mana yang halal.

Mendapat penolakan dan keengganan untuk berubah.

Akhirnya kotak asongan yang dibelinya dipakai juga oleh Komet dan kelima temannya.

Komet dan teman-temannya pun senang bisa melihat Muluk lagi.

Mereka saling menyapa, melambaikan tangan dan tertawa bahagia.


Tiba-tiba tawa Muluk berubah.

Kekhawatiran membayangi wajahnya ketika ia berteriak sambil berusaha keluar dari mobil. “Lariiiiiiiiiiii!!!!!,”ujarnya.

Komet dan kawan-kawan pun lari seketika. Mereka memang tak dikejar polisi, mereka juga tidak dikejar massa.

Tapi mereka dikejar SatPol PP yang siap menggaruk pedagang asongan, gelandangan, pengemis, dan anak jalanan.

Seharusnya pemerintah melongok dari hal-hal kecil semacam ini, agar tidak terjadi diskriminasi antara pedagang asongan dan koruptor,

secara agama pun jelas bahwa jadi pedagang asongan adalah halal dan berpahala karena diniatkan jihad,

sedang korupsi adalah sangat jelas perbuatan dosa besar dengan menggelapkan uang rayat demi kepentingan pribadi.

Penulis menangkap film ini dapat menimbulkan fakta yang tidak bisa di salahkan, 

bagamana tidak?!!

menjadi pedagang asongan yang jelas halal dan tidak merugikan sama saja akan tetap di kejar satpol PP seperti pencopet,

tentu hal ini akan sangat mendorong mereka kaum terbelaang untuk melakukan tindakan kriminal semacam ini.

Menjadi pencopet tujuh ribu pun hukumannya lebih berat di banding mereka pencopet tujuh milyar rupiah.

Pendidikan yang di berikan negara semacam ini secara sadar atau tidak berdampak lansung terhadap negara dengan maraknya kriminalitas.

Satu adegaan yang penelulis kutip dari film ini, saat Asrul meminta Muluk kembali mempekerjakannya dengan di bayar uang hasil anak-anak mencopet,

Muluk mengabaikan dan pergi begitu saja.

Begini katanya:

Muluk!!!! yang paling besar dosanya mereka yang korupsi!
Mereka yang ngabisisn duit rakyat!
Yang biarin rakyatnya melarat!
Yang biarin rakyatnya jadi tukang copet!

Kritikan ini menggugah kita benar atau tidak begitulah adanya,

bagi yang tidak berpendidikan pun  jika mendengar kutipan demikan, pasti sadar akan hal ini.

H. Penutup

Dari gambaran yang penulis amati tentang aspek pendidikan yang di dapat dari Film Alangkah Lucunya (Negeri ini), dapat di peroleh beberapa kesimpulan: 

  1. Pertama, melasanakan pendidikan adalaha perintah Tuhan yang mengutus manusia sebagai khalifah di muka bumi, dengan pendidikan tersebut insan manusia akan lebih terarah jalan hidupnya, pendidikan Tuhan pun selalu mengarahkan kepada kebenaran.
  2. Kedua, bahwa gelar yang di peroleh seseorang dari instansi pendidikan tidaklah menjamin suksenya seseorang, hakikatnya adalah kemampuan yang bagus yang di cari.
  3. Ketiga, pendidikan tidaklah harus monoton dan penuh dengan tuntutan, pendidikan adalah kebebasan yang akan melahirkan kemampuan, bahwa pendidikan bukan sekedar teori melainkan lebih kepada peningkatan kemampuan secara proporsional.
  4. Keempat, Pendidikan saja tidak cukup tanpa di bekali dengan bimbingan moral dan spiritual, arena dengan berendidikan kita akan pandai, tapi tanpa moral dan spiritual kita akan celaka, karena Tuhan selalu membawa kepada jalan kebenaran.
  5. Kelima,dengan berpendidikan yang berlandaskan moral dan spiritual adalah cara terbaik meningkatkan kesejahteraan bangsa, begitu pula cara yang di terapkan mereka negara-negara kecil yang berusaha merebut kekayaan bangsa kita.
  6. Keenam,kebiasaan pendidikan yang salah akan berdampak negatif pula pada akhirnya, seperti dalam Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) Karya Dedy Mizwar ini dengan adanya penggrebekan para penjual asongan baik secara langsung atau tidak langsung akan menimbulkan dampak negatif berupa meningkatnya populasi pencopet.



DAFTAR PUSTAKA


  1. http://www.ahmadsubagyo.com/sarjana-dan-pengangguran-di-indonesia.html.
  2. Rosyadi, Khoiron. 2014. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.
  3. Zainuddin. 2008. Paradigma Pendidikan Terpadu, Menyiapkan Generasi Ulul Albab. Malang: UIN-MALANG PRESS.
  4. http://www.artikelbagus.com/2012/11/pengertian-pendidikan.html.
  5. Nata, Abuddin. 2012. Sejarah Sosial Intelektual Islam dan Institusi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.





Belum ada Komentar untuk " Analisis Pendidikan Pada Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) Karya Dedy Mizwar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel