Filsafat Imam Al-Ghazali (Epistemologi, Moral, Dan Jiwa)

 Siluetsenja.com, 27/03/2022   12:54 pm

Mengkaji Filsafat Islam tidak semudah membalikan telapak tangan. Ia sarat dengan muatan teologis dan historis. Secara historis, tarik menarik kepentingan bahwa orisionalitas filsafat itu berasal dari Yunani atau Islam adalah fakta yang tak bisa di hindari. Begitu pula dalam tataran teologis, penerimaan filsafat kerap berbenturan antara pandangan keimanan dan pemikiran liberal filsafat.
Filsafat berbeda dengan ilmu pengetahuan lainnya dari segi sifat penyelidikannya, Filsafat mempunyai sifat mendalam dalam menyelidiki sesuatu. Adapun objek pengetahuan hanya terbatas pada sesuatu yang bisa di selidiki secara ilmiah saja, dan jika dapat di selidiki lagi, ilmu pengetahuan akan terhenti sampai di stu. Akan tetapi, penyelidikan filsafat akan terus bekerja hingga permasalahannya dapat ditemukann sampai akar-akarnya.
Dalam tradisi filsafat, agar bisa sampai pada suatu makna yang esensi dari suatu hal, seseorang harus melakukan penjelajahan secara radikal, logis, dan serius. Untuk dapat mengenal lebih dekat dengan teori filsafat islam para filsuf, di sini kami akan mengkaji secara khusus mengenai filsafat Imam Al-Ghazali. Al-Ghazali adalah seorang ulama dan pemikir dalam dunia islam yang sangat produktif dalam menulis mengenai epistemologi dan filsafatnya.
       Al-Ghazali membagi filsuf kepada tiga golongan, yaitu materialis (dhariyyun), naturalis (thabi’iyyun), dan theis ( ilahiyyun). Banyak sekali karya-karya beliau yang masih dapat kita kaji, lebih jelasnya kami akan mengulas tentang filsafatnya dalam pembahasan mengenai epistemologi, moral dan jiwa.  Dari karya dan filsafat beliau ini, kita dapat memperoleh banyak sekali ilmu dan pembelajaran, diantaranya mengenai pengenalan jiwa dan moral yang baik. Maka dari itu Filsafat Al-Ghazali sangat penting untuk  diketahui.
Filsafat Imam Al-Ghazali (Epistemologi, Moral, Dan Jiwa)
A.      Biografi Imam Al-Ghazali
Nama lengkapnya Abu Hamid ibn Muhammad ibn Ahmad al-Ghazali, digelar Hujjah al-Islam. Dia lahir di Thus di Khurasan, dekat Masyhad Iran, pada 450 H/1058 M. Dia dan Ahmad, saudaranya di tinggal yatim pada usia dini.
Pendidikannya di mulai di Thus, lalu pergi ke Jurjan. Dan sesudah satu periode lebih lanjut di Thus, Dia pergi ke Naisabur tempat Dia menjadi murid Al-Juwaini Imam Al-Haramain hingga meninggalnya yang terakhir pada 478 H/1085 M. Dari Naisabur, Al-Ghazali pergi ke kampus Nizam Al-Mulk dan di sana dia diterima dengan kehormatan dan kemuliaan.
Pada 484 H/1091 M, Dia diutus oleh Nizam Al-Mulk untuk menjadi guru besar di madrasah Nizhamiyyah di Baghdad. Selama empat tahun ia memberi kuliah kepada lebih dari tiga ratus mahasiswa, pada saat yang sama dia menekuni kajian filsafat dengan penuh semangat lewat bacaan pribadi, dan menulis sebuah buku.
Namun, pada 488 H/1095 M dia menderita penyakit jiwa yang secara fisik membuatnya tak dapat memberi kuliah. Beberapa bulan kemudian dia meninggalkan Baghdad denga untuk melaksanakan Haji, tetapi sebenarnya Ia ingin meninggalkan status guru besarnya dan kariernya secara keseluruhan selaku ahli hukum dan teolog.
Al-Ghazali berkata dia takut masuk neraka dan melakukan banyak kritik terhadap kerusakan yang dilakukan ulama pada masanya. Besar kemungkinan bahwa dia meninggalkan jabatan yang di dalamya dia terlibat, di karenakan jabatan tersebut korup. Oleh karenanya sebab itu, satu-satunya cara untuk mengarah kepada kehidupan yang benar dia harus meninggalkan jabatan tersebut seluruhnya.
     Dari penolakan Al-Ghazali atas jabatan guru besarnya di Baghdad, hingga kembali ke Naisabur untuk mengajar pada 499 H/1106 M, ada jangka waktu sebelas tahun dan kadang-kadang dikatakan, bahkan juga dalam catatan-catatan biografis Muslim awal, bahwa Al-Ghazali menghabiskan waktu sepuluh tahun di Suriah.Sejak kepergiannya dari Baghdad bulan Dzulqa’dah di Damasus, lalu pergi ke Madinah dan Mekkah lewat Jarusalem dan Hebron, sambil melaksanakan haji pada 489 H/November-Desember 1096 M.
Pada periode pengunduran dirinya di Damasus dan Thus Al-Ghazali hidup sebagai sufi yang miskin, selalu menyendiri, menghabiskan waktunya dengan meditasi dan pelatihan ruhaniah lainya. Pada eriode inilah Dia menulis Ihya Ulum Al-Din, karya besarnya tentang etika. Menjelang akhir periode ini, Al-Ghazali telah berkembang jauh sepanjang jalan mistik, dan yakin bahwa itulah jalan hidup tertinggi bagi manusia.
Dalam Ihya Al-Ghazali dengan jelas menyatakan pentingnya syaikh  atau “pembimbing moral” sebagai figur sentral. Doktrin ini memiliki banyak pengaruh dalam membangun tipe pemikiran yang di anut oleh para penganut doktrin mistik. Bagi Al-Ghazali, “doktrin mistik” yang berkaitan dengan ide “pembimbingan moral” secara keseluruhan tidaklah baru, dia hanya mengalihkan doktrin ini dari tokoh mistik pendahulunya
Pada 499 H/1105-6 M, Fakhr Al-Mulk, putra Nizam Al-Mulk, an Wajir Sanjar, penguasa Saljukiah di Khurasan, menekan Al-Ghazali untuk kembali ke kerja akademik. Dia menyerah atas peneknan itu, karena ia percaya bahwa ia di takdirkan menjadi pembaru agama (mujaddid).
Pada bulan Zulqa’dah/Juli-Agustus1106 M, Al-Ghazali mulai mengajar di Nizamiyah di Nasyabur dan tidak lama sesudah itu menulis karya autobiografis Al-Munqidzmin Dhalal. Namun, sebelum meninggalnya pada bulan Jumadda Al-Tsaniyah 505 H/Desember 1111 M, Al-Ghazali kembali berhenti mengajar dan kembali ke Thus. Sebelum berangkat ke Naysabur, dia mendirikan khanaqah atau pusat sufi, tempat dia melatih murid muda mengenai teori dan praktik kehidupan sufi.
B. Karya-Karya Al-Ghazali
Al-Ghazali adalah seorang ulama dan pemikir dalam dunia islam yang sangat produktif dalam menulis. Dalam masa hidupnya baik ketika menjadi pembesar negara di Mu’askar maupun ketika sebagai profesor di Baghdad, baik sewaktu skeptis di Nasiabur maupun stelah berada di dalam akhir hayatnya, Al-Ghazali terus berusaha menulis dan mengarang.
Jumlah kitab yang di tulis Al-Ghazali sampai searang belum disepakati secara definitif oleh para penulis sejarahnya. Menurut Ahmad Daudy penelitian tentang jumlah buku yang di karang Al-Ghazali, dan di kumpulkan dalam satu buku oleh Abdurahman Al-Badawi Berjudul Muallafat Al Ghazali. Adapun kitab yang berhubungan dengan Al-Ghazali di klasifikasikan ke dalam tiga kelompok, pertama terdiri atas 72 kitab di pastikan asli karyanya. Kedua, terdiri dari 22 kitab dan di ragukan sebagai karyanya yang asli. Ketiga, terdiri dari 31 kitab yang bukan karyanya.*
Sedangkan pendapat Badawi mengatakan jumlah karangan Al-Ghazali ada 47 buah, dianaranya:
1.        Ihya Ulum Ad-Din (Membahas Ilmu-Ilmu Agama),
2.        Tahafut Al-Falasifah (Menerangkan Pendapat Para Filsuf  Di Tinjau Dari Segi Agama),
3.        Al-Iqtishad Fi Al-‘Intiqad (Inti Ilmu Ahli Kalam),
4.        Al-Munqidz Min Adh-Dhalal (Menerangan Tujuan Dan Rahasia-Rahasia Ilmu),
5.        Jawahir Al-Qur’an (Rahasia-Rahasia Yang Terkandung Dalam Al-Quran),
6.        Mizan Al-‘Amal (Tentang Filsafat Keagamaan),
7.        Al-Maqashid Al-Asna Fi Ma’ani Asma’illah Al-Husna (Tentang Arti Nama-Nama Tuhan),
8.        Faishal At-Tafriq Baina Al-Islam Wa Al-Zindiqiah (Perbedan Antara Islam Dan Zindiq),
9.        Al-Qisthas Al-Mustaqim (Jalan Untuk Mengatasi Perselisihan Pendapat),
10.    Al-Mustadhhriy,
11.    Hujjat Al-Haq (Dalil Yang Benar),
12.    Mufahil Al-Khilaf  Fi Ushul Ad-Din (Menjauhkan Perselisihan Ad-Din),
13.    Kimiya As-Sa’adah (Menerangkan Syubhat Ahli Ibadah),
14.    Al-Basith (Fiqh),
15.    Al-Wasith (Fiqh),
16.    Al-Wajiz (Fiqh),
17.    Al-Khulusahah Al-Mukhtasharah (Fiqh),
18.    Yaqut At-Ta’wil Fi Tafsir At-Tanzil (Tafsir 40 Jilid),
19.    Al-Mustasfa (Ushul Fiqh),
20.    Al-Mankhul (Ushul Fiqh),
21.    Al-Muntaha Fi ‘Ilmi Al-Jadal (Cara-Cara Berdebat Yang Baik),
22.    Mi’yar Al-‘Ilmi (Timbangan Ilmu),
23.    Al-Maqashid (Yang Dituju),
24.    Al-Madnun Bihi ‘Ala Ghairi Ahlihi,
25.    Misykat Al-Anwar (Pelajaran Keagamaan),
26.    Mahku An-Nadhar,
27.    Asraru ‘Ilmi Ad-Din (Rahasia Ilmu Agama),
28.    Minhaj Al-Abidin,
29.    Ad-Darar Al-Fakhirah Fi Kasyfi ‘Ulum Al-Akhirah (Tasawuf),
30.    Al-Anis Fi Al-Wahdah (Tasawuf),
31.    Al-Qurbah Ila Allah ‘Azza Wa Jalla (Tasawuf),
32.    Akhlaq Al-Abrar (Tasawuf),
33.    Bidayat  Al-Hidayah (Tasawuf),
34.    Al-Arba’in Fi Ushul Ad-Din (Ushul Al-Din),
35.    Adz-Dzari’ah Ila Mahaim Asy-Syari’ah (Pintu Ke Pengadilan Agama),
36.    Al-Mabadi Wa Al-Ghayat (Permula’an Dan Tujuan),
37.    Talbisu Iblis (Tipu Daya Iblis),
38.    Nashihat Al-Mulk (Nasihat Bagi Raja-Raja),
39.    Syifa’u Al-‘Alil Fi Al-Qiyas Wa At-Talil (Ushul Fiqh),Hazali
40.    Iljam Al-Awwam ‘An ‘Ilmi Al-Kalam (Ushul Ad-Din),
41.    Al-Intishar Lima Fi Al-Ajnas Min Al-Asrar (Rahasia-Rahasia Alam),
42.    Al-‘Ulum Al-Laduniyah (Ilmu Laduni),
43.    Ar-Risalah Al-Qudsiyah,
44.    Isbat An-Nadhar,
45.    Al-Ma’akhidz (Tempat Pengambilan),
46.    Al-Qaul Al-Jamil Fi Ar-Raddi ‘Ala Man Ghayyara Al-Injil (Perkataan Yang Baik Bagi Orang Yang Mengubah Injil),
47.    Al-‘Amali,*
C.  Filsafat menurut Imam Al-Ghazali
Berfilsafat adalah menggunakan logika (akal) dengan kajian analisisnya maka apa yang di maksud dengan akal dan pandangan posisi akal di gunakan sebagai titik tolak al-ghazali dalam memandang filsafat dan ilmu-ilmu lainnya.Filsafat menurut al-ghazali terbagai menjadi enam bagian: “ilmupasti, ilmu logika,ilmu alam,ilmu ketuhanan, ilmu politik, dan ilmu akhlak.* Di samping itu pada dasarnya al-ghazali tidak menyerang semua cabang filsafat tersebut, kecuali filsafat ketuhanan (metafisika) dimana para filsuf sangatmengagungkan peranan akal yang “mengalahkan” agama dan syari’at.
Menurut al-ghazali, secara teoritis, akal dan syara’ tidak bertentangan secara hakiki, karena semuanya adalah cahaya petunjuk dari Allah SWT. Demikian juga, di tinjau dari segi praktis, tidak ada hakikat agama yang bertentangan dengan hakikat ilmiah. Al-ghazali melihat bahwa satu sama lainya saling mendukung dan membenarkan.
D.  Filsafat Imam Al-Ghazali
a.   Epistemologi
Seperti yang dijelaskan Al-Ghazali dalam bukunya Al-Munqidzmin al-Dhalal, ia ingin mencari kebenaran sejati, kebenaran yang diyakini betul-betul merupakan kebenaran, seperti kebenaran sepuluh lebih banya dari tiga. “sekiranya ada orang yang mengatakan bahwa tiga itu lebih banyak dari sepuluh dengan argumen bahwa tongkat dapat ia jadikan ular, dan hal itu memang betul ia laksanakan, saya akan kagum melihat kemampuannya, sungguhpun demikaian keyakinan saya bahwa sepuluh lebih banyak  dari tiga tidak akan goyah”. Seperti inilah menurut Al-Ghazali pengetahuan yang sebenarnya.
Awalnya Al-Ghazali beranggapan bahwa pengetahuan itu adalah hal-hal yang dapat di tangkap oleh panca indera, teteapi emudian baginya ternyata panca indera juga berdusta, seumpamanya bayangan rumah, kelihatan tak bergerak, padahal terbukti kemudaian, bayangan itu berpindah tempat. Demikian pula bintang-bitang di langit, kelihatannya kecil, tetapi perhitungan menyatakan bahwa bintang-bintang itu lebih besar dari bumi.*
Karena tidak percaya kepada panca indera, Al-Ghazali kemudian meletakan kepercayaannya kepada akal. Tetapi akal juga tak dapat dipercaya. Sewaktu bermimpi, demikian menurut Al-Ghazali, orang meihat hal-hal yang kebenarannya betul-betul, namun setelah bangun ia sadar bahwa apa yang ia lihat benar itu sebetulnya tidaklah benar.
Alasan lain yang membuat kepercayaan Al-Ghazali terhadap akal goncang, karena ia melihat bahwa aliran-aliran yang menggunakan akal sebagai sumber pengetahuan, ternyata menghasilkan pandangan-pandangan yang bertentangan, yang sulit di selesaikan dengan akal. Artinya, akal pada dirinya membenarkan pandangan-padangan yang bertentangan itu.
Dengan akal saja takafu’ al-adillah (antinomi) bisa terjadi. Seperti disebut di atas, yang di cari oleh Al-Ghazali adalah ‘ilm al-yaqini yang tidak mengandug pertentangan ada dirinya. Pada akal ia tidak menemukannya. Namun, Al-Ghazali tidak konsekwen dalam menguji kedua sumber pengetahuan itu, ia menggunakan argumentasi faktual atas kelemahannya.
Tetapi, ketika membuktikan adanya sumber pengetahuan yang lebih tinggi daripada akal, ia hanya dapat menggunakan kesimpulan hipotesis (fardhi) saja. Ia, ketika itu tidak berhasil membuktikan adanya sumber pengetahuan yang lebih tinggi daripada akal secara faktual.
 Akhirnya Al-Ghazali mengalami puncak kesangsian, karena ia tidak menemuan sumber pengetahuan yang dapat dipercaya. Tetapi dua bulan kemudian, dengan cara tiba-tiba Tuhan memberikan  nur yang disebut Al-Ghazali sebagai kunci marifat dalam hatinya, sehingga ia merasa sehat dan dapat menerima kebenaran pengetahuan secara a priori yang bersifat aksiomatis.
Dengan demikian bagi Al-Ghazali bahwa al-dzawq (intuisi) lebih tinggi dan lebih di percaya dari pada akal untuk menangkap pengetahuan yang betul-betul diyakini kebenrannya. Sumber pengetahuan tertinggi tersebut di namakan juga al-nubuwwat, yang pada nabi-nabi berbentuk wahyu dan pada manusia biasa berbentuk ilham.
 Al-Ghazali membagi filsuf kepada tiga golongan, yaitu materialis (dhariyyun), naturalis ( thabi’iyyun), dan theis ( ilahiyyun). Kelompok pertama terdiri dari para filsuf awal, seperti Empedokles (490-430 SM) dan Demokritus (460-360 SM), mereka menyangkal pencipta dan pengatur dunia dan yakin bahwa dunia ini telah ada sejak dulu. Peristiwa-peristiwa alam adalah perubahan yang terus menerus. Al-Ghazali menganggap mereka tidak beragama.
Naturalis terpesona oleh keajaiban penciptaan dan sadar akan maksud yang berkelanjutan dan sadar akan kebijaksanaan dalam rencana segala sesuatunya, mengakui eksistensi suatu pencipta bijaksana tetapi menyangkal kerohanian dan sifat immateriality jiwa manusia. Mereka menjelaskan perihal jiwa dalam istilah naturalis sebagai suatu epifenomena jasad dan yakin bahwa kematian jasad menyebabkan jiwa tak berwujud sama sekali.
Kepercayaan pada surga, neraka dan hari akhirat mereka pandang sebagai dongeng nenek-nenek atau khayal ulama. Karena mereka menyangkal hari kemudian, Al-Ghazali memandang mereka pun tidak religius. Yang dalam istilah Al-Ghazali di sebut zindiq. Kaum theis tergolong para filsuf lebih modern dan mencakup Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Meski mereka menyerang golongan materialis dan naturalis, serta menelajangi cacat mereka dengan efetif sekali, Al-Ghazali berpendapat, kaum theis ini masih menyimpan sisa kekafiran dan paham bid’ah. Sebab itu dia menilai mereka maupun para filsuf musim  yang mengikutinya sebagai kaum kafir.
      b.   Moral
     Dalam satu karya masa awalnya, Mizan al-‘Amal, akhlak merupakan bahan pemikiran utama. Kebanyakan karya akhirnya , bersifat etis moralitas yang menjamin kebahagiaan sempurna. Adapun teori etika yang dikembangkannya bersifat religius dan sufi. Hal itu terlihat jelas penamaan Al-Ghazali ini pada karya-karya akhirnya, setelah ia menjadi sufi tidak lagi memepergunakan ungkapan ‘ilm akhlaq, tetapi dengan ” ilmu jalan akhirat”(‘ilm thariq al-akhirat) atau jalan yang dilalui para nabi dan leluhur saleh (al-salaf al-shalih). Ia juga menamakannya dengan ” ilmu agama praktis” (‘ilm al-mu’amalah).
Ada tiga teori penting mengenai tujuan mempelajari akhlak, yaitu (a) mempelajari akhlak sekedar sebagai studi murni teoritis, yang berusaha memahami ciri kesusilaan (moralitas), tetapi tanpa masud mempengaruhi perilaku orang yang mempelajarinya; (b) mempelajari akhlak sehingga akan meningkatkan sikap dan perilaku sehari-hari; (c) Karena akhlak terutama merupakan subyek teoritis yang berkenaan dengan usaha menemukan kebenaran tentang hal-hal moral, maka dalam penyelidikan akhlak harus terdapat kritik yang terus-menerus mengenai standar moralitas yang ada, sehingga akhlak menjadi suatu obyek praktis, seakan-akan tanpa maunya sendiri.
 Al-Ghazali setuju dengan teori kedua. Dia menyatakan bahwa studi tenntang ilm al-muamalahdimaksudan guna latihan kebiasaan: tujuan latihan adalah untuk meningkatkan keadaan jiwa agar kebahagiaaan dapat di capai akhirat.* Tanpa kajian ilmu ini, kebaikan tak dapat di cari, dan keburukan tak dapat di hindari dengan sempurna. Prinsip-prinsip moral di pelajari dengan maksud menerapkan semuanya dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Ghazali menegaskan bahwa pengetahuan yang tidak di amalkan tidak lebih baik dari pada kebodohan.* Berdasarkan pendapatnya ini, dapat dikatakan bahwa akhlak yang di kembangkan Al-Ghazali bersifat teologis (ada tujuannya), sebab ia menilai amal dengan mengacu kepada akibatnya.
Corak etika ini mengajarkan, bahwa manusia mempunyai tujuan yang agung, yaitu kebahagiaan di akhirat, dan amal itu baik kalau dia menghasilkan pengaruh pada jiwa yang membuatnya menjurus ke tujuan tersebut, dan di katakan amal itu buruk , kalau menghalangi jiwa mencapai tujuan itu. Bahkan amal ibarat seperti shalat dan zakat adalah baik di sebabkan akibatnya bagi jiwa. Derajat baik atau buruk berbagai amal berbeda oleh sebab perbedaan dalam hal pengaruh yang di timblkannya dalam jiwa pelakunya.
Adapun masalah kebahagiaan menurut Al-Ghazali tujuan manusia adalah kebahagiaan Uhrawi (al-saadah al-ukhrawiyyah) yang bisa di peroleh dengan mengendalikan sifat-sifat manusia dan bukan membuangnya. Kebahagiaan uhrawi memunyai empat ciri khas, yakni berkelanjutan tanpa akhir, kegembiraan tanpa duka cita, pengetahuan tanpa kebodohan, dan kecukupan (ghina) yang tak membutuhkan apa-apa lagi guna kepuasan yang sempurna.
Kebahagiaan di surga ada dua tingkat, yang rendah terdiri dri kesenangan indrawi mengenai makanan dan minuman, pergaulan dengan bidadari, pakaian indah, istana dan seterusnya. Kebahagiaan yang lebih tinggi ialah dekat dengan Allah, dan menatap wajah-Nya yang Agung.
c.   Jiwa
Manusia menurut Al-Ghazali di citaptakan oleh Allah sebagai mahluk yang terdiri dari jiwa dan jasad. Jiwa, yang menjadi inti hakikat manusia adalah makhluk spiritual rabbani yang sangat halus (lathifah rabbaniyyah). Istilah yang digunakannya untuk itu adalah qalb, ruh, nafs, dan ‘aql.
Jiwa bagi Al-Ghazali adalah suatu zat (jauhar) dan bahkan suatu keadan atau aksiden (‘ardh), sehingga ia ada pada dirinya sendiri. Jasadlah yang adanya bergantung pada jiwa, bukan sebaliknya. Jiwa, berada di alam spiritual, sedangkan jasad di alam materi.
Jiwa, bagi Al-Ghazali berasal sama dengan malaikat. Asal dan sifat ilahiyyah. Ia tak pre-eksisten, tidak berawal dengan waktu, seperti menurut Plato dan filsuf lainya. Tiap jiwa pribadi di ciptakan di alam atas (alam al-arwah) pada saat benih manusia memasuki rahim, dan jiwa lalu dihubungkan dengan jasad. Setelah kematian jasad musnah, tetapi jiwa tetap hidup dan tidak terpengaruh dengan kematian tersebut, kecuali kehilangan wadahnya.
Jiwa mempunyai kemampuan memahami, sehingga persoalan kenabian, ganjaran perbuatan manusia, dan seluruh berita tentang akhirat membawa makna dalam kehidupan manusia. Tidak demikian halnya dengan fisik. Sebab apabila fisik manusia mempunyai kemampuan memahami objek-objek fisik lainya juga mesti memahami kenyataanya tidak demikian.
Bagi Al-Ghazali, jiwa yang berasal dari Illahi mempunyai potensi kodrat, yaitu kecenderungannya pada kebaikan dan keengganan pada kekejian. Pada waktu lahir ia merupakan jiwa yang bersih dan murni dengan esensi malaikat (alam al-malakut atau alam al-amar, Q.S. Al-Isra’ 17: 85), sedangkan jasad berasal dari alam al-khalaq.
Karena itu, kecenderungan jiwa, pada kejahatan (yang timbul setelah lahirnya nafsu) bertentangan dengan tabiat aslinya. Oleh karena itu, jiwa rindu akan alam atas dain mendampingi malaikat, namun kerap diredam keinginan duniawi.
Mengenai perihal kekekalan jiwa yang problematik itu, Al-Ghazali menegaskan bahwa Tuhan sesungguhnya dapat menghancurkan jiwa, tetapi Dia tidak melakukannya. Disini Al-Ghazali berada di persimpangan pandangan sebagai mutakallimin (kemungkinan hancurnya jiwa apabila dikehendaki Tuhan), dan pandangan sebagai filsuf (jiwa mempunyai sifat substansial kekal).
Dengan demikian bantahan Al-Ghazali terhadap filsuf dalam bukuya,  Tahafut Al-Falasifah, bukan ditekanan pada kekekalan jiwa; yang di bantahnya adalah dalil-dalil rasional yang digunakan para filsuf untuk membuktikan kekekalan jiwa itu. Menurutnya, hanya jiwa syara’ yang bisa menjelaskan persoalan al-ma’ad (kehidupan di akhirat)
Adapun hubungan  jiwa dan jasad dari segi pandangan moral adalah setiap jiwa diberi jasad, sehingga dengan bantuanya, jiwa bisa mendapatkan bekal. Jiwa merupakan inti hakiki manusia dan jasad hanyalah alat baginya untuk mencari bekal dan kesempurnaan; karena jasad sangat diperlukan oleh jiwa maka ia harus dirawat baik-baik.*
Meskipun jiwa dan jasad merupakan wujud yang berbeda keduanya saling mempengaruhi dan menentukan jalannya masing-masing. Karena itu, bagi Al-Ghazali setiap perbuatan akan menimbulkan pengaruh pada jiwa, yakni membentuk kualitas jiwa asalkan perbuatan itu dilakukan secara sadar.
Demikian pula sebaliknya, jiwa memepngaruhi jasad. Kemauan atau keengganan untuk melakukan suatu perbuatan tergantung pada kuat atau lemahnya kualitas tadi. Lebih jauh Al-Ghazali menegaskan karena interaksi inilah jiwa itu di turunkan ke alam benda atau duniawi agar ia dapat menyempurnakan dirinya melalui amal perbuatan.*
E. Kesimpulan
Nama lengkapnya Abu Hamid ibn Muhammad ibn Ahmad al-Ghazali, digelar Hujjah al-Islam. Dia lahir di Thus di Khurasan, dekat Masyhad Iran, pada 450 H/1058 M. Pendidikannya di mulai di ThusPada 484 H/1091 M,
Al-Ghazali adalah seorang ulama dan pemikir dalam dunia islam yang sangat produktif dalam menulis. Filsafat menurut al-ghazali terbagai menjadi enam bagian: “ilmu pasti, ilmu logika,ilmu alam,ilmu ketuhanan, ilmu politik, dan ilmu akhlak.
Al-Ghazali membagi filsuf kepada tiga golongan, yaitu materialis (dhariyyun), naturalis (thabi’iyyun), dan theis ( ilahiyyun). Kebanyakan karya al-ghazali bersifat etis moralitis yang menjamin kebahagiaan sempurna.
Kebahagiaan uhrawi mempunyai empat ciri khas, yakni berkelanjutan tanpa akhir, kegembiraan tanpa duka cita, pengetahuan tanpa kebodohan, dan kecukupan (ghina) yang tak membutuhkan apa-apa lagi guna kepuasan yang sempurna.
Jiwa bagi Al-Ghazali adalah suatu zat (jauhar) dan bahkan suatu keadan atau aksiden (‘ardh), sehingga ia ada pada dirinya sendiri. Jasadlah yang adanya bergantung pada jiwa, bukan sebaliknya. Jiwa, berada di alam spiritual, sedangkan jasad di alam materi. Jiwa, bagi Al-Ghazali, berasal sama dengan malaikat. Asal dan sifat ilahiyyah. Ia tak pre-eksisten, tidak berawal dengan waktu, seperti menurut Plato dan filsuf lainya.
Adapun hubungan  jiwa dan jasad dari segi pandangan moral adalah setiap jiwa diberi jasad, sehingga dengan bantuanya, jiwa bisa mendapatkan bekal. Jiwa merupakan inti hakiki manusia dan jasad hanyalah alat baginya untuk mencari bekal dan kesempurnaan.
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Nasution Hasyimsyah,Fisafat Islam,(Jakarta: Gaya Media Pratama),2002.
Supriyadi Dedi,Pengantar Filsafat Islam,(Bandung: Pustaka Setia),2009.
Mahzar Armahedi,Revolusi Integralisme Islam,(Bandung: Mizan Media Utama),2014.
Subhi Mahmud Ahmad,Filsafat Etika,Serambi Ilmu Semesta,2001.
Abdullah Amin,Filsafat Etika Islam,(Bandung: 2002).
 
 
      
 
 
      
 
 

Belum ada Komentar untuk "Filsafat Imam Al-Ghazali (Epistemologi, Moral, Dan Jiwa)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel