Budi Utomo (Pengertian, Sejarah, Tujuan, dan Tokoh-Tokohnya)

 Siluetsenja.com, 14/02/2022   11:39 am

Budi Utomo (Pengertian, Sejarah, Tujuan, dan Toko-Tokohnya)
Pict By. Kompas.com
A.   Pengertian Budi Utomo

Secara etimologi, nama Budi Utomo diadaptasi dari kata “bodhi” yang memiliki makna “Keterbukaan jiwa, pikiran, akal, atau pengadilan”. Budi Utomo adalah organisasi pemuda yang didirikan oleh Soetomo dan para mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908.

Organisasi ini digagas oleh Wahidin Sudirohusodo. Organisasi ini bersifat sosialekonomi, dan budaya yang tidak bersifat Politik. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal pergerakan yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, walaupun pada awalnya organisasi ini hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa.Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.*

B.   Sejarah Budi Utomo

Pada tahun 1907Wahidin Sudirohusodo melakukan kunjungan ke STOVIA dan bertemu dengan para mahasiswa yang masih bersekolah di sana. Lalu, ia menyerukan gagasan pada mereka untuk membentuk organisasi yang dapat mengangkat derajat bangsa.* Selain itu, Sudirohusodo juga ingin mendirikan sebuah organisasi di bidang pendidikan yang bisa membantu biaya orang-orang pribumi yang berprestasi dan mempunyai keinginan untuk bersekolah, tetapi terhambat biaya.

Gagasan ini menarik bagi para mahasiswa di sana, terutama Soetomo, Gunawan Mangunkusumo, dan Soeradji Tirtonegoro.* Selanjutnya, Soetomo bersama dengan M. Soeradji mengadakan pertemuan dengan mahasiswa STOVIA yang lain untuk membicarakan gagasan organisasi yang disampaikan oleh Sudirohusodo.

Acara itu berlangsung tidak resmi di Ruang Anatomi milik STOVIA saat tidak ada jam pelajaran. Pertemuan tersebut membentuk sebuah organisasi yang diberi nama "Perkumpulan Budi Utomo" sehingga Budi Utomo pun berdiri pada tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta.*

Budi utomo pun menjadi awal sebuah era nasionalisme indonesia yang dikenal dengan nama pergerakan nasional. Saat masih didirikan di STOVIA, organisasi tersebut telah memiliki susunan pengurus organisasi yang tertulis di dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi tersebut. Pada masa itu, Sutomo menjadi Ketua dengan wakilnya, yaitu Soelaiman. Pengurus lainnya terdiri dari Gondo Soewarno sebagai sekretaris I dan Goenawan sebagai sekretaris II serta Bendahara yang dijabat oleh Angka. Sisa pendiri lainnya menjabat sebagai komisaris. *

Seiring perkembangan waktu, Budi Utomo terus menambah anggota dan tokoh-tokoh penting pergerakan Indonesia mulai bergabung, seperti Ki hadjar dewantaraTjipto MangoenkoesomoTirto Adhi SoerjoPangeran Ario Noto Dirodjo dan Raden Adipati Tirtokoesoemo.* Berita berdirinya perkumpulan ini tersebar di surat kabar dan menimbulkan gerakan untuk mendirikan kota cabang di kota para pendengar. Kantor-kantor cabang pun didirikan di kota MagelangProbolinggo dan Yogyakarta.

Akan tetapi fenomena ini mengancam status para pendiri perkumpulan tersebut, terutama Soetomo karena Soetomo dianggap sebagai pemimpin kelompok pemberontakan terhadap Hindia Belanda bersama dengan teman-teman pelajarnya. Atas dasar ini, Soetomo terancam dikeluarkan dari STOVIA. Sebagai bentuk solidaritas, teman-temannya ikut berjanji untuk keluar dari sekolah tersebut, jika Soetomo dikeluarkan.

Akan tetapi, Soetomo tidak jadi dikeluarkan karena mendapakan pembelaan dari Hermanus Frederik Roll yang menyampaikan pembelaan bahwa umur Soetomo yang muda menjadi alasan sifat berapi-apinya sama seperti orang yang menuduh Soetomo ketika mereka saat muda.* Pada bulan Juli 1908, Budi Utomo telah mencapai anggota yang berjumlah 650 orang yang terdiri dari priayi berpangkat rendah dan pelajar.* Pergerakan Budi Utomo berakhir pada 1935 saat organisasi ini melebur ke Partai Indonesia Raya (Parindra) yang dipimpin oleh Soetomo.

C.   Tujuan Budi Utomo

Organisasi Budi Utomo menggelar kongres pertama pada Oktober 1908, di Yogyakarta. Tujuan didirikannya organisasi Budi Utomo ini tercetus di dalam kongres pertama ini. tujuannya adalah untuk menjadi kehidupan sebagai bangsa yang terhormat. Fokus dari pergerakan organisasi ini dalam bidang pengajaran, pendidikan, dan kebudayaan.

D.   Tokoh Pendiri Organisasi Budi Utomo

Organisasi Budi Utomo ini menjadi sebuah wadah dalam perjuangan. Tujuannya untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraan yang ada. Organisasi ini didirikan oleh 9 tokoh.

Ke-9 tokoh tersebut antara lain adalah Soetomo, Mochammad Saleh, Mohammad Soelaiman, Goenawan Mangoenkoesoemo, Gondo Soewarno, R. Angka Prodjosoedirdjo, Mas Goembrek, Soewarno dan Soeradji Tirtonegoro.

1. Soetomo

Soetomo memiliki nama asli Soebroto. Lahir di Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 30 Juli 1888. Dilansir dari buku karya Angkasa, yang berjudul Riwayat Hidup dan Perjuangan dr Soetomo (1960) Soetomo adalah seorang dokter. Di samping menjadi dokter, Soetomo aktif di dalam bidang politik.

Setelah itu, Soetomo mendirikan sebuah perkumpulan. Nama perkumpulan tersebut adalah Budi Utomo. Selain sebagai perkumpulan, Budi Utomo dijadikan sebagai organisasi pelajar.

Pasalnya, pada saat itu Belanda sangat melarang segala macam organisasi yang berbau politik. Itulah sebabnya Budi Utomo dijadikan sebagai organisasi pelajar.  Setelah lulus dari STOVIA tahun 1911, Soetomo lanjut bekerja sebagai dokter yang harus berpindah tempat ketika bertugas.

Selain organisasi Budi Utomo, Soetomo juga mendirikan organisasi lain. Organisasi tersebut adalah ISC atau Indonesische Studie Club. Di dalam organisasi tersebut melahirkan sekolah tenun, koperasi, bank kredit dan lain sebagainya.

Soetomo kemudian wafat pada tanggal 30 Mei 1938. Ia meninggal di usia 50 tahun karena terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan organisasinya. Akibatnya, kondisi fisiknya terus menurun dan meninggal.

2. Mochammad Saleh

Mochammad Saleh lahir pada tanggal 15 Maret 1888 di Kecamatan Simo, Boyolali Jawa Tengah. Ia merupakan dokter pertama yang diberikan sebuah wewenang oleh Pemerintahan Indonesia. Mochammad Saleh ditugaskan untuk menjadi pemimpin sebuah rumah sakit umum yang ada di kota Probolinggo. Dalam menjalankan tugasnya, ia dibantu oleh Dr. Peter dari Swiss dan Dr. Sardadi.

“Setia dan pendiam”, itu adalah kesan dari Soetomo, mengenai Mochammad Saleh. Mochammad Saleh adalah orang yang selalu bekerja menurut apa yang diputuskan oleh rapat. Ia mengatur urusan rumah tangga secara tertib.

Hal itu membuat hasil pekerjaan organisasi Budi Utomo selalu beres dan maju. “Orang tidak mengetahui kesukaran yang ada di dalam perjalanan kita.” Kalimat itu diucapkan oleh Soetomo.

Mochammad Saleh adalah seseorang yang selalu bekerja kelas. Akan tetapi, tetap senantiasa lemah lembut. Baik di dalam tingkah lakunya maupun di dalam tutur katanya yang manis.

Mochammad Saleh mengabdikan dirinya untuk bekerja sebagai seorang dokter swasta di daerah Probolinggo. Perangai yang sudah melekat pada dirinya yang membuatnya memiliki pengaruh besar. Hal itu juga menjadi alasan ia dicintai oleh para masyarakat sekitarnya.  Mochammad Saleh meninggal pada tanggal 2 Maret 1952, ketika berusia 63 tahun

3. Mohammad Soelaiman

Mochammad Soelaiman lahir pada tahun 1886 di Grabag, Kemutihan, Purworejo, Jawa Tengah. Semasa kecil, ia dipanggil Sleman. Ayahnya adalah Sonto Wirok atau Sonto Suwondo, seorang ketib. Dapat juga dikatakan bahwa ayahnya adalah seorang pemuka agama.

Ayahnya sering berdakwah dari satu desa ke desa lainnya, sampai wilayah Banyumas. Ayahnya wafat ketika Soelaiman masih kecil. Hal itu membuatnya hidup bersama kedua adiknya di bawah asuhan sang ibu.

Wawasan hidup yang sederhana sudah terpatri erat di dalam sanubari Soelaiman. Soelaiman adalah orang yang menghormati orang lain dan hormat kepada orang yang lebih tua dan sesamanya. Itulah yang membuat ia dekat dengan berbagai kalangan.

Soelaiman lulus dari ELS atau Europeesche Lagere School pada usia 16 tahun. Ia menyadari bahwa kungkungan masyarakat kolonial hanya bisa ditembus dengan peningkatan kualitas dari manusia Jawa. Peningkatan kualitas tersebut didapatkan dari pendidikan.

Berdasarkan hal itu, ia mantap untuk masuk ke STOVIA atau School Tot Opleiding van Indlansche Artsen pada tanggal 1 Maret 1903. Ia meninggalkan Purworejo dan masuk ke Weltevreden, Batavia. Ia dikenal sebagai seseorang yang sangat cerdas, bahkan dijuluki en lopende woordenboek atau sebuah kamus berjalan.

Soelaiman juga sering terlibat diskusi mengenai kebangsaan dan gejolak sebuah pergerakan. Itulah yang membuatnya tercatat sebagai salah satu pendiri organisasi Budi Utomo sebagai wakil ketua. Ketika kongres pertama organisasi Budi Utomo tanggal 3 sampai 5 Oktober 1908 di Yogyakarta, Soelaiman pun ikut hadir dan berpartisipasi.

4. Goenawan Mangoenkoesoemo

Goenawan Mangoenkoesoemo adalah salah satu sahabat dekat dari Soetomo. Bahkan, keduanya tak bisa dipisahkan, terlebih dalam hal kaitannya dengan pendirian dari organisasi Budi Utomo. Goenawan menjabat sebagai sekretaris di dalam organisasi Budi Utomo.

Ia dinilai sangat konsisten pada pendiriannya. Bahkan, ia menjadi penggerak sekaligus motivator dari organisasi Budi Utomo tersebut. di dalam kegiatan berorganisasi, Goenawan memiliki jiwa pekerti serta rasa dalam berbahasa.

Hal adalah salah satu alasan organisasi Budi Utomo diapresiasi dengan baik. Baik dengan kawan maupun lawan. Goenawan dikenal sebagai sosok yang menggemari kemerdekaan dan keadilan. Persamaan dari semangat, visi, pandangan politik serta penjelasannya selalu selaras dan cocok dengan pandangan sahabatnya, yaitu Soetomo. Semua orang telah mengakui bahwa Goenawan memiliki kemampuan dalam meyakinkan orang atas gagasan dan pendapat yang diberikan olehnya. Semua ide-ide, pendapat dan gagasan yang ia kerjakan demi kemajuan organisasi Budi Utomo.

5. Gondo Soewarno

Gondo Soewarno sering dipanggil Soewarno. Ia lahir di Boyolali, pada 1887. Soewarno masuk ke dalam pendidikan STOVIA pada tanggal 25 Januari 1902. Kemudian ia lulus pada tanggal 20 September 1910.

Pada awal pendirian organisasi Budi Utomo, Soewarno mendapat jabatan sebagai sekretaris sementara di organisasi Budi Utomo. Ia mengeluarkan dua pernyataan tentang organisasi Budi Utomo. Akan tetapi, tidak ada satupun dibubuhi tanggal, kapan dikeluarkannya pernyataan tersebut.

Pernyataan pertama, yaitu yang bertajuk “Kemajuan Bagi Hindia”. Hal itu muncul di dalam koran Belanda, Bataviaasch Nieuwsblad. Pernyataan tersebut dirilis di dalam koran pada tanggal 17 Juli 1908.

Kemudian disusul di dalam koran De Locomotief, pada tanggal 24 Juli 1908. Pernyataan kedua dari Soewarno ini bertajuk “Surat Edaran”, ini diterbitkan di dalam mingguan Belanda Java Bode, pada tanggal 7 September 1908. Pernyataan tersebut keluar pada tangga; 5 September 1908.

Soewarno adalah sosok yang dikenal pendiam. Bahkan lebih pendiam dibandingkan Soerdji dan Mochammad Saleh. Akan tetapi, dibalik sifat pendiamnya tersimpan kekuatan besarnya sebagai pemikir.

Soewarno adalah orang yang mahir dalam menulis dan berbicara dalam bahasa Belanda. Kemahiran utamanya adalah dalam bidang seni. Berbagai kemahiran yang dimilikinya tentu saja bermanfaat untuk organisasi Budi Utomo.

6. R. Angka Prodjosoedirdjo

Angka Prodjosoedirdjo atau Dokter Angka lahir pada Selasa Kliwon, tanggal 13 Desember 1987. Ayahnya merupakan asisten wedana atau camat di Madukara, Banyumas yang bernama Prodjodiwirjo. Ketika masa kanak-kanak, ia dititipkan kepada orang tua ibunya, yaitu eyang R. Santadiredja.

Kemudian Dokter Angka bersekolah di HIS atau Holland Indische School selama tujuh tahun. Selama masa sekolah, ia mendapatkan prestasi yang bagus. Hal itu membuatnya melanjutkan sekolah ke Hoogere Burger School atau HBS, selama kurang lebih 5 tahun.

Setelah itu ia melanjutkan sekolah pendidikan dokter bumiputera di School Tot Opleiding van Indlansche Artsen atau STOVIA. Dokter Angka selalu mengabdikan diri sebagai pendidik dan dokter rakyat.

Pada tahun 1967 Dokter Angka kemudian menyempatkan untuk menulis silat mengenai pendirian organisasi Budi Utomo. Ia menulis surat untuk menjawab surat dari Prof. Sardjito yang mengatakan bahwa organisasi Budi Utomo didirikan oleh pelajar dari STOVIA, sesuai dengan kejadian yang ia saksikan pada tanggal 20 Mei 1908.

Dokter Angke meninggal di Purwokerto, pada tahun 1975. Saat itu ia meninggal pada usia 88 t ahun. Kemudian ia dimakamkan di Pesarean keluarga.

7. Mas Goembrek

Goembrek lahir pada tanggal 28 Juni 1885, hal itu sesuai dengan perhitungan tarikh Jawa. Ibunya bernama Raden Ajeng Marsidah dan Ayahnya bernama R. M. Padmokoesoemo. Nama Goembrek berasal dari salah satu wuku di dalam kalender Jawa.

Wuku ke enam yang biasa disebut dengan Gumbreg. Goembrek menghabiskan masa kecilnya sampai menjelas sekolah di daerah Kebumen. Ia juga mengikuti ayahnya yang diangkat menjadi Wedana Kebumen pada tahun 1886 – 1897. Ia bersekolah di Europeesche Lagere School yang terdapat di ibukota Karesidenan Purworejo, saat itu ia mondok di tempat pakdenya, yang merupakan Bupati Purworejo R. M. T. Tjokronegoro III.

Kemudian pada tahun 1901 Goembrek menyelesaikan pendidikannya di ELS. Pada saat itu, ayahnya ingin Goembrek menjadi seorang pangreh praja. Hal itu karena pada masa itu, pendidikan dokter bukanlah hal istimewa bagi orang tua kalangan pangreh praja.

Ada hal-hal lain pula yang menjadikan pendidikan dokter tidak banyak diminati. Seperti letak geografis yang cukup jauh, biaya sekolah dan pemondokan yang tinggi, serta ketidakpastian akan kesuksesan pada masa depan seorang dokter. Hal-hal seperti itu menjadi oertimbangan ayah Gombrek.

Lain halnya dengan menjadi pangreh praja. Hanya dengan mengikuti ujian klein ambtenaar atau pegawai rendah. Pada masa itu, anak dan cucu keturunan bupati serta status sosialnya akan terjamin.

Akan tetapi, Gombrek tetap masuk STOVIA pada tahun 1900. Saat di STOVIA Goembrek merasakan adanya sistem kekolotan suksesi bupati berdasarkan faktor keturunan. Melalui hal itu, kemudian ia bergabung dengan kelompok Soetomo yang masuk ke STOVIA pada tahun berikutnya.

Mereka saling berdiskusi masalah negara dan kebangsaan. Gombrek memiliki peran yang penting dalam melakukan pendekatan dengan para bupati. Hal itu dilakukan untuk perjuangan mendukung organisasi Boedi Oetomo.

8. M. Soewarno

Tidak banyak hal-hal yang terekam mengenai M. Soewarno. Menurut catatan, M. Soewarno lahir pada tahun 1886 di Kemirie. Ia masuk ke dalam STOVIA pada tanggal 6 Februari 1901. Kemudian lulus pada tanggal 10 September 1910.

Semasa menempuh pendidikan di STOVIA, M. Soewarno aktif di dalam sebuah pergerakan. Ia melakukannya bersama dengan teman sesama pelajar di sekolah kedokteran pribumi pada masa itu. Kemudian ia termasuk salah satu pendiri organisasi Budi Utomo.

Di antara teman-teman lainnya, M. Soewarno adalah angkatan pelajar yang masuk lebih awal. Di dalam kepengurusan organisasi Budi Utomo, nama M. Soewarno tercatat sebagai seorang komisaris atau pembantu umum. Ia bertugas bersama komisaris lainnya, seperti Soeradji, Mochammad Saleh dan Goembrek.

9. Soeradji Tirtonegoro

Tokoh pendiri kesembilan organisasi Budi Utomo adalah Soeradji Tirtonegoro. Dilansir dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Soeradji adalah salah satu pelajari di STOVIA yang mahir dalam berbahasa Jawa. Selain itu, ia juga sebagai perantara antara pelajar yang aktif di organisasi Budi Utomo dengan masyarakat.

Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat bumiputera yang hanya dapat menggunakan bahasa Jawa untuk kesehariannya. Soeradji adalah orang yang mengusulkan dua nama untuk perkumpulannya. Nama pertama yang diusulkan adalah Eko Projo.

Nama kedua yang diusulkan adalah Budi Utomo. Setelah itu, Soetomo memilih nama Budi Utomo untuk nama organisasinya. Salah satu tokoh di organisasi Budi Utomo ini lahir pada tahun 1887, di desa Uteran, Kabupaten Ponorogo.

Ayah Soeradji adalah Tirtodarmo, ia merupakan seorang pensiunan guru kepala Sekolah Rakyat. Sama seperti Soetomo, Soeradji berhasil menjadi seorang dokter. Setelah itu ia ikut dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Selain itu, ia adalah orang yang peduli pada hal-hal yang berbau kemanusiaan. Pada tanggal 17 September 1946, ia mendirikan sebuah organisasi. Organisasi tersebut bernama Palang Merah Indonesia atau PMI.

Palang Merah Indonesia ini didirikan di daerah Klaten, Jawa Tengah. Berkat jasa-jasanya dan pengabdiannya pada rakyat, Soeradji mendapatkan sebuah gelar. Gelar tersebut adalah Raden Tumenggung Tirtonegoro. Kemudian ia meninggal pada tanggal 13 Desember 1959, dan dimakamkan di Mlati, Yogyakarta.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      Ariefyanto, M Irwan (20 Mei 2020). "Hari ini di 1908, Budi Utomo Didirikan". Republika Online. Diakses tanggal 14 Februari 2022.

2.     Gischa, Serafica (29 Februari 2020). "Tokoh Pendiri Budi Utomo: Pelajar STOVIA". KOMPAS.com. Diakses tanggal 14 Februari 2022.

3.     Hatta, Mohammad (1980). Permulaan Pergerakan Nasional. Jakarta: Yayasan Idaya. hlm. 16–17.

4.     Parinduri, Alhidayath (23 Februari 2021). "Kapan Boedi Oetomo Didirikan, Latar Belakang Sejarah, & Tujuannya?". tirto.id. Diakses tanggal Februari 2022.

5.     Kurniasih, Wida. “Organisasi Budi Utomo: Tokoh, Latar Belakang, dan Tujuan”.Gramedia.com. Diakses Tanggal 14 Februari 2022.

 

Belum ada Komentar untuk "Budi Utomo (Pengertian, Sejarah, Tujuan, dan Tokoh-Tokohnya)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel