Pendidikan Islam Menurut Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasy

 Siluetsenja.com, 30/01/2022   12:50 am

Pendidikan Islam Menurut Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasy
Pict By. PxHere


Telah diketahui bahwa pada jaman kejayaan Islam negara Mesir dikenal sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan di samping Baghdad, Damascus, Cordova dan lain-lain. Tetapi kemudian ketika dunia Islam mengalami kemunduran, Mesirpun turut merasakannya lebih-lebih setelah negeri ini berturut-turut dijajah Perancis dan Inggris. Akibatnya Mesir juga mengalami kemunduran di bidang pemikiran pada umumnya dan dunia pendidikan pada khususnya.

Kondisi pahit inilah yang melatarbelakangi Muhammad `Athiyah al-Abrasyi mencoba menggali kembali nilai-nilai dan unsur pembaharuan yang terpendam dalam khzanah perkembangan pendidikan Islam pada masa kejayaannya, dan ditelusurinya pula ruh dan semangat pendidikan modern. Ia mencoba mencari titik persamaan dasar-dasar pendidikan Islam dan pendidikan modern serta ciri khas pendidikan Islam.  Oleh karena itu, makalah ini membahas tentang latar belakang pemikiran pendidikan Islam menurut Muhammad 'Athiyah al-Abrasyi.

A.  Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.* Pendidikan dalam wacana keislaman lebih populer dengan istilah tarbiyah, ta’lim, ta’dib, riyadhah, irsyad, dan tadris.*

Pendidikan islam berarti sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya.* Dengan redaksi yang agak singkat, Ilmu  Pendidikan Islam adalah Ilmu Pendidikan yang berdasarkan islam*

B.  Biografi Muhammad ‘Atiyah Al-Abrasy

Muhammad ‘Atiyah al-Abrasy adalah seorang sarjana yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan di Mesir yang merupakan pusat ilmu pengetahuan islam. Sekaligus sebagai guru besar pada fakultas Darul Ulum Cairo University, Csiro. Sebagai guru besar beliau secara sistematis telah menguraikan pendidikan islam dari zaman ke zaman serta mengadakan komparasi di bidang pendidikan mengenai prinsip, metode, kurikulum dan sistem pendidikan modern di dunia Barat pada abad ke-20 ini.*

Muhammad ‘Atiyah al –Arbasy adalah seorang tokoh pendidikan yang hidup pada masa pemerintahan Abd.Nasser yang memerintah mesir pada tahun 1954-1970. Beliau adalah penulis tentang pendidikan keislaman dan pemikir, umurnya yang mendekati 85 tahun akan selalu terasa pengaruhnya bagi generasi sesudahnya. Beliau di lahirkan pada awal April tahun 1897, dan wafat pada tanggal 17 juli 1981. Beliau memperoleh gelar diploma dari Universitas Darul Ulum tahun 1921, dan tahun 1924 beliau terbang ke inggris di sana beliau mempelajari ilmu pendidikan, psikologi, sejarah pendidikan, kesehatan jiwa, bahasa inggris berikut sastranya. Pada tahun 1927 beliau memperoleh gelar sarjana pendidikan dan psikologi dari Unversitas Ekstar dan pada tahun 1930 beliau berhasil menggondol dua gelar sarjana bahasa, masing-masing adalah Bahasa Suryani dari Universitas kerajaan di London dan Bahasa Ibrani dari lembaga bahasa timur di London.

C.  Pendidikan Islam Menurut Muhammad ‘Atiyah al-Abrasy

Pengertian pendidikan islam menurut muhammad ‘athiyah al-abrasy adalah:

Sesungguhnya pendidikan islam itu meliputi prinsip-prinsip (demokrasi), yaitu kebebasan, persamaan, dan kesempatan yang sama dalam pembelajaran, dan untuk memperolehnya tidak ada perbedaan antara si kaya dengan si miskin, sesungguhnya mencari ilmu bagi mereka merupakan suatu kewajiban dalam bentuk immateri, bukan untuk tujuan materi (kehendak), dan menerima ilmu itu dengan sepenuhnya hati dan akal mereka, dan mencarinya dengan keinginan yang kuat dari dalam dirinya, dan mereka banyak melaksanakan perjalanan panjang dan sulit dalam rangka memecahkan masalah-masalah agama.

Pernyataan athiyah diatas menunjukan bahwa pendidikan islam itu merupakan sesuatu yang memang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat secara umum dan menyeluruh, karena prinsip-orinsip yang ada pada kenyataannya dapat menjadikan kehidupan ini lebih bahagia baik di dunia maupun diakhirat. Pendidian islam memang merupakan disiplin ilmu yang memiliki dasar dan tujuan yang jelas, relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat di dunia.

a.    Konsep muhammad athiyah al-abrasy tentang pendidikan akhlak dalam islam

Dalam kamus besar bahasa indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa arab (yang biasa diartikan tabiat, perangai kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam al-quran.

Menurut athiyah tujuan utama dari pendidikan islam ialah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral, laki-laki maupun perempuan, memiliki jiwa yang bersih, kemauan keras, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi, mengetahui arti dari kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak manusia, mengetahui perbedaan buruk dengan baik, memilih salah satu fadhilah, menghindari suatu perbuatan yang tercela, dan mengingat tuhan dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan.

Tujuan dari pendidikan moral dan akhlak dalam islam ialah membentuk orang-orang yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam bicara dan mulai dalam tingkah laku dan perangai bersifat bijaksana, sempurna, sopan beradab, ikhlas, jujur, dan suci. Jiwa dari pendidikan islam ialah pendidikan dan moral akhlak.

1.    Pendidikan budi pekerti di masa anak-anak

Pembentukan yang utama adalah diwaktu kecil, apabila sesorang anak dibiarkan melakukan sesuatu (yang kurang baik) sehingga telah menjadi kebiasaannya, sukuarlah meluruskannya, “Artinya: pendidikan budi pekerti yang tinggi, wajib dimulai di rumah, dalam keluarga, sejak kecil, dan jangan membiarkan anak-anak tanpa pendidikan, bimbingan, dan petunjuk-petunjuk. Bahkan sejak kecil ia harus dididik sehingga tidak terbiasa dengan adat dan kebiasaan yang tidak baik. Bila dibiarkan saja, tidak diperhatikan, tidak dibimbing, ia akan melakukan keniasaan-kebiasaan yang kurang baik, sehingga sukarlah mengembalikannya dan memaksakannya untuk meninggalkan kebiasaa tersebut. Ringkasnya pemeliharaan lebih baik dari bada perawatan.

2.    Metode pendidikan akhlak (moral) dalam islam

Menurut athiyah, untuk pendidikan moral dan akhlak dalam islam, terdabat beberapa metode atau cara, antara lain sebagai berikut:

a)      Pendidikan secara langsung, yaitu dengan cara mempergunakan petunjuk, tuntutan, nasehat menyebutkan manfaat dan bahayanya sesuatu.

Diantara kata-kata berhikmat, wasiat-wasiat yang baik dalam bidang pendidikan moral dan akhlak dalam islam, menurut athiyah disebutkan sebagai berikut:

·           Sopan santun adalah warisan yang terbaik

·           Budi pekerti yang baik adalah teman sejati

·           Mencapai kata mufakat adalah pemimpinn yang terbaik

·           Ijtihad adalah pandangan yang menguntungkan

·           Akal adalah harta yang paling bermanfaat

·           Tidak ada bencana yang lebih besar daripada kejahilan

·           Tidak ada lawan yang lebihterpercaya daripada musyawarah

·           Tidak ada kesunyian yang lebih buruk daripada mengagungkan diri sendiri

b)      Pendidikan akhlak secara tidak langsung, yaitu dengan cara sugesti. Seperti mendiktekan sajak-sajak yang mengandung hikmah kepada anak, mencegah mereka dari membaca sajak-sajak yang kosong.

c)      Mengambil manfaat dari kecenderungan dan pembawaan anak-anak dallam rangka pendidikan akhlak. Sebagai contoh, mereka (siswa) meniru ucapan-orang-orang yang berhubungan erat dengan mereka (guru). Oleh karena itu filosof-filosof islam mengharapkan agar setiap guru berhias dengan akhlaknya yang baik, mulia, dan menghindari setiap yang tercela.

Menurut Muhammad ‘Atiyah al-Abrasy tujuan pendidikan islam adalah tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Sewaktu hidupnya, yaitu pembentukan moral yang tinggi, karena pendidikan moral merupakan jiwa pendidikan islam, sekalipun tanpa mengabaikan pendidikan jasmani, akal, dan ilmu praktis.*

b.   Tujuan pendidikan Islam Muhammad ‘Athiyah al-Abrasy membagi lima asas yang menjadi sasaran tujuan pendidikan islam antara lain :

1.         Untuk membantu pembentukan akhlak yang baik

2.         Persiapan untuk hidup dunia dan akhirat

3.         Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaat atau tujuan vokasional dan profesional

4.         Menumbuhkan roh ilmiah (scientific sprint) pada pelajar dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui (curiosity) dan memungkinkan peserta didik mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu.

5.         Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknikal, dan pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu.

c.    Pendidik dan Peserta Didik dalam Pendidikan Islam

a.         Pendidik

Muhammad ‘Athiyah al-Abrasy menyebut pendidik adalah sebagai spiritual father atau bapak rokhani dari seorang peserta didik, dialah yang memberi santapan jiwa dengan ilmu, pendidikan akhlak dan membenarkannya atau meluruskan perilaku peserta didik yang buruk. Maka menghormati pendidik berarti penghormatan terhadap anak-anak kita, dengan pendidik itulah mereka hidup dan berkembang sekiranya setiap pendidik itu menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, pendidik mempunyai kedudukan tinggi dalam Islam. Bahkan Islam menempatkan pendidik setingkat dengan derajat seorang Rosul, sebagaimana syair al-Syawki yang dikutip oleh Muhammad ‘Athiyah al-Abrasy.

Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasyi kode etik pendidik dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut*:

1)        Mempunyai watak kebapakan sebelum menjadi seorang pendidik, sehingga ia menyayangi peserta didiknya seperti menyayangi anaknya sendiri.

2)         Adanya komunikasi yang aktif  antara pendidik dan peserta didik. Pola komunikasi dalam interaksi dapat diterapkan ketika terjadi proses belajar mengajar.

3)         Memperhatikan kemampuan dan kondisi peserta didiknya. Pemberian materi pelajaran harus di ukur dengan kadar kemampuannya.

4)         Mengetahui kepentingan bersama, tidak terfokus pada sebagian peserta didik, misalnya hanya memprioritaskan anak yang memiliki IQ tinggi.

5)        Mempunyai sifat-sifat keadilan, kesucian, dan kesempurnaan.

6)        Ikhlas dalam menjalankan aktivitasnya, tidak banyak menuntut hal yang diluar kewajibannya.

7)        Dalam mengajar supaya mengaitkan materi satu dengan materi lainnya (menggunakan pola integrited curriculum).

8)         Memberi bekal peserta didik dengan ilmu yang mengacu pada masa depan, karena ia tercipta berbeda dengan zaman yang di alami oleh pendidiknya.

9)        Sehat jasmani dan rohani serta mempunyai kepribadian yang kuat, tanggung jawab, dan mampu mengatasi problem peserta didik, serta mempunyai rencana yang matang untuk menatap masa depan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

b.         Peserta didik

Berbicara tentang murid atau peserta didik dalam islam Muhammad ‘Athiyah al-Abrasy menegaskan bahwa peserta didik dalam menuntut ilmu pengetahuan mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu. Adapun kewajiban-kewajiban yang harus senantiasa diperhatikan oleh setiap peserta didik dan dikerjakan adalah sebagai berikut :

1.      Sebelum belajar, harus membersihkan diri dari segala sifat yang buruk karena belajar adalah juga ibadah.

2.    Belajar dengan maksud mengisi jiwa dan rasa fadilah, mendekatkan diri kepada Allah SWT.

3.    Bersedia menuntut ilmu walaupun sampai meninggalkan keluarga dan tanah air.

4.    Menekuni ilmu sampai selesai artinya jangan terlalu sering berganti guru jika berganti juga harus dipikir matang-matang terlebih dahulu.

5.    Hendaknya ia memiliki guru dan menghormatinya karena Allah dan berupaya menyenangkan hati guru dengan cara yang baik.

6.    Jangan berjalan di depannya, duduk di tempatnya dan jangan mulai berbicara kecuali sudah ada izinnya.

7.    Saling mencintai dan berjiwa persaudaraan antara sesama murid.

8.    Bertekad belajar sampai akhir hayat dan jangan meremehkan suatu bidang ilmu.

d.   Kurikulum atau Materi Pendidikan Islam

Dalam pendidikan modern dewasa ini, pembawaan dan keinginan peserta didik sangat diperhatikan. Oleh karena itu, dalam pembuatan kurikulum, Muhammad ‘Athiyah al-Abrasy mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut :

1.         Harus ada mata pelajaran yang ditujukan mendidik rohani atau hati. Ini berarti perlu diberikan pelajaran ketuhanan (aqidah).

2.         Mata pelajaran harus ada yang berisi petunjuk dan tuntunan untuk menjalani cara hidup yang mulia, sempurna, seperti ilmu akhlak , hadist, fiqih, dan lain sebagainya.

3.         Mata pelajaran yang dipelajari oleh orang-orang Islam karena mata pelajaran tersebut mengandung kelezatan ilmiah dan kelezatan ideologi, yaitu apa oleh ahli-ahli pendidikan utama dewasa ini dinamakan menuntut ilmu karena ilmu itu sendiri.

4.         Mata pelajaran yang diberikan harus bermanfaat secara praktis bagi kehidupan. Dengan kata lain, ilmu itu harus terpakai.

5.         Pendidikan kejuruan, tekhnik dan industrialisasi untuk mencari penghidupan. Selain mengutamakan segi-segi kerohanian, keagamaan dan moral, pendidikan Islam tidak mengesampingkan pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk mempelajari subyek atau latihan-latihan kejuruan mengenai beberapa bidang pekerjaan, teknik, dan perindustrian setelah peseta didik selesai mengahafal al-Qur’an.

e.    Prinsip  - prinsip pendidikan

  Ø   Kebebasan  demokrasi dalam pendidikann

Metode pendidikan dan pengajaran dalam rangka pendidikan Islam sangat banyak terpengaruh oleh prinsip kebebasan dan demokrasi. Islam telah menyerukan adanya prinsip persamaan dan kesempatan yang sama dalam belajar, sehingga terbukalah jalan yang mudah untuk belajar bagi semua orang. Pintu masjid dan institut terbuka bagi anak didik yang ada dalam masyarakat tanpa adanya perbedaan antara yang kaya dan yang miskin serta tinggi rendahnya kedudukan sosial anak didik dalam masyarakat. Oleh karena itu, didalam Islam tidak ada kelebihan antara orang Arab dengan yang bukan Arab, kecuali ketakwaannya.

  Ø   Pembicaraan sesuai dengan tingkat intelektual

Prinsip ini merupakan prinsip terpenting dalam pendidikan Islam dan termasuk prinsip terbaru dalam pendidikan modern, Al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengutarakan bahwa:

“Seorang pendidik hendaknya membatasi dirinya dalam berbicara dengan anak didik sesuai dengan daya pengertiannya, dan jangan diberikan kepadanya sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh akalnya, karena akibatnya ia akan lari dari pelajaran atau akalnya memberontak terhadapnya”*.

  Ø   Pengaruh pembawaan terhadap insting pilihan

Para intelektual Islam telah lama menganjurkan agar pembawaan, instink, dan seseorang diperhatikan dalam menuntut ke arah bidang pekerjaan yang dipilihnya demi masa depan kehidupannya. Dalam hal ini, Ibnu Sina sebagaimana dikutip oleh Muhammad Athiyah al-Abrasyi menyarankan agar menekankan kemampuan instink anak-anak harus diperhatikan yang merupakan landasan dalam pendidikannya. Tidak semua pekerjaan yang dicita-citakan akan terpenuhi secara keseluruhan, hanya pekerjaan yang sesuai dengan instink dan pembawaannya. Karena itu, kewajiban seorang juru didik bila hendak memilihkan bidang pekerjaan untuk anak harus memilih dahulu dan menguji, sehingga bakatnya bisa terpenuhi sesuai dengan bidangnya.

Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasyi bahwa Islam sangat memperhatikan perbedaan-perbedaan individual antara anak-anak yaitu perbedaan yang timbul akibat perbedaan keturunan, pembawaan dan bakat dari si kecil. Hal ini terbukti dalam penyelidikan-penyelidikan ilmu jiwa, bahwa pengekangan terhadap kemarahan, penindasan atas hawa nafsu, ataupun penggecetan atas instink seorang anak, akan membahayaka terhadap dirinya. Jalan yang terbaik adalah kita tuntun ia dengan petunjukpetunjuk, nasehat-nasehat, pendidikan serta daya upaya lainnya sehingga nafsu kemarahan, hawa nafsu atau instinknya yang liar itu dapat dijinakkan dan ditundukkan*.

  Ø   Kecintaan terhadap pengetahuan

Setiap siswa yang cinta ilmu akan senang sekali belajar dan menggunakan seluruh waktunya untuk melakukan penelitian, membaca studi memecahkan problematik ilmiah, mencernakan ilmu, bergairah dalam menggali ilmu pengetahuan dan masalah-masalah ilmiah tanpa segan-segan bertekun siang malam mempersiapkan pelajaran mereka buat keesokan harinya. Mereka menyerahkan seluruh kekuatan masa muda dan hidupnya untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Dengan cara demikian, dikalangan muslim terdapat ulama-ulama dan sarjana kenamaan, ahli fiqih, sastrawan, penyair dan ahli bahasa yang telah menghasilkan karya-karya agung dan berharga dibidang tafsir, hadits, fiqih, tauhid, balaghah, syari’at dan ensiklopedi-ensiklopedi bahasa, yaitu buku-buku yang merupakan referensi yang tidak seorangpun sarjana-sarjana di Timur maupun Barat yang sanggup menandinginya*.

D.  Kesimpulan

·           Pendidikan islam berarti sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya. Dengan redaksi yang agak singkat, Ilmu  Pendidikan Islam adalah Ilmu Pendidikan yang berdasarkan islam.

·           Biografi Muhammad ‘Atiyah Al-Abrasy

v  Beliau di lahirkan pada awal April tahun 1897, dan wafat pada tanggal 17 juli 1981.

v  Muhammad ‘Atiyah al-Abrasy adalah seorang sarjana yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan di Mesir yang merupakan pusat ilmu pengetahuan islam.

v  Pada tahun 1921 beliau memperoleh gelar diploma dari Universitas Darul Ulum

v  Pada tahun 1927 beliau memperoleh gelar sarjana pendidikan dan psikologi dari Unversitas Ekstar

v  pada tahun 1930 beliau berhasil menggondol dua gelar sarjana bahasa, masing-masing adalah Bahasa Suryani dari Universitas kerajaan di London dan Bahasa Ibrani dari lembaga bahasa timur di London.

v  Pengertian pendidikan islam menurut muhammad ‘athiyah al-abrasy adalah:

Sesungguhnya pendidikan islam itu meliputi prinsip-prinsip (demokrasi), yaitu kebebasan, persamaan, dan kesempatan yang sama dalam pembelajaran, dan untuk memperolehnya tidak ada perbedaan antara si kaya dengan si miskin, sesungguhnya mencari ilmu bagi mereka merupakan suatu kewajiban dalam bentuk immateri, bukan untuk tujuan materi (kehendak), dan menerima ilmu itu dengan sepenuhnya hati dan akal mereka, dan mencarinya dengan keinginan yang kuat dari dalam dirinya, dan mereka banyak melaksanakan perjalanan panjang dan sulit dalam rangka memecahkan masalah-masalah agama.

·           Muhammad ‘Athiyah al-Abrasy membagi lima asas yang menjadi sasaran tujuan pendidikan islam antara lain :

v  Untuk membantu pembentukan akhlak yang baik

v  Persiapan untuk hidup dunia dan akhirat

v  Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaat atau tujuan vokasional dan profesional

v  Menumbuhkan roh ilmiah (scientific sprint) pada pelajar dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui (curiosity) dan memungkinkan peserta didik mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu.

v  Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknikal, dan pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu.

·           Tujuan dari pendidikan moral dan akhlak dalam islam ialah membentuk orang-orang yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam bicara dan mulai dalam tingkah laku dan perangai bersifat bijaksana, sempurna, sopan beradab, ikhlas, jujur, dan suci. Jiwa dari pendidikan islam ialah pendidikan dan moral akhlak.

·           Prinsip  - prinsip pendidikan

v  Kebebasan  demokrasi dalam pendidikan

v  Pembicaraan sesuai dengan tingkat intelektual

v  Pengaruh pembawaan terhadap insting pilihan

v  Kecintaan terhadap pengetahuan


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA


Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir.2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana Prenada Media.

Abuddin Nata. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Bachtiar Surin. 1978. Terjemah Terjemah dan Tafsir Al-Qur’an. Bandung: Fa.      Sumatra.

Ghani, bustami.a. dan Bahri Djohar. 1987. M.atiyah al-abrasy Dasar-dasar Pokok-pokok Pendidikan Islam. Jakarta : Bulan Bintang. Cetakan ke VII

Hery Noer Aly. 1999.  Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Logos.

H.M.Arifin. 2011.  Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.

http://pemikiran-pendidikan-prof-dr-m-athiyah-al-abrasyi

Moh. Roqib,2009. Ilmu Pendidikan Islam. LKIS Yogyakarta.

 

 

 

 


Belum ada Komentar untuk "Pendidikan Islam Menurut Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasy"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel